Aku Kalah
Mendefinisikan jarak, ada banyak satuan yang bisa kita gunakan. Agar jarak yang ada tampak menjadi kecil. Ya, tampaknya saja. Nyatanya semua masih sama saja. Jarak kita masih begitu-bagitu saja.
Entah apa yang salah, kita yang memang jauh, atau terlanjur memilih saling menjauh. Aku tak bisa menjawabnya. Aku tak tau. Kamu bagaimana?
Jarak ini menggilas waktuku, mengutukku dalam rindu yang muaranya masih kamu. Akh.. Kamu, aku benci kenapa harus kamu. Berbulan-bulan aku membuat tirani pada rasaku sendiri. Nyatanya rasa jauh lebih berkuasa atas diriku. Aku kalah.
Aku kalah, dalam memperjuangkan rasaku agar tak menjadi kamu. Nyatanya, aku masih manusia lemah yang hanya bisa menertawakan diriku sendiri, sebab kebodohanku membiarkan rasa ini menjadi hal utuh dalam jarak yang semakin jauh.
Sejauh aku dan kamu, sejauh itulah rasaku telah tumbuh. Kau tau, bagaimana rasanya menjadi biasa saja ketika bertemu dengamu? Jauh lebih rumit dari penurunan rumus di kertas yang ada di pangkuanku malam ini. Sebab itu, aku ingin mengalihkan rumitnya kepalaku berdamai dengan rasaku padamu pada hal yang mungkin lebih rumit. Namun lagi, aku kalah.
Aku kalah, rasanya aku ingin mengatakan tepat dihadapanmu "capek" udah itu aja tak lebih tak kurang. Itu kepalaku. Hatiku, dia jauh lebih berkecamuk. Kau terlalu tumbuh menjadi rasa terbaik sejauh ini mungkin, sampai-sampai ia justru memilih diam. Ya, hatiku diam saja. Kau tau kenapa?
Ya karena masih kamu, hingga detik ini. Entah besok, lusa, atau entah kapan. Entah sampai kapan masih kamu. Dia akan tetap diam. Hatiku ternyata sudah jauh mendewasa, dia tak lagi merumitkan bersuara. Toh, katanya jika memang kamu ya kamu. Jika tidak, semoga Tuhan mendengar bahwa masih kamu yang masih menjadi yang selalu ditunggu.
#jogjaday2
Komentar
Posting Komentar