Postingan

Penting Ngopi

Gambar
Pada cangkir yang sudah habis ini, ada rasa yang masih sama. Pahit kopi misalnya. Sebagai pembuka tulisannya, ada foto sebuah cangkir yang masih sedikit kau tinggalkan sisa pahitnya kopi yang membekas di sana. Malam ini, kepala rasanya nggak singkron, wkwkwk mau nulis di blog isinya cirhat juga ga baik, tapi kok kebetulan Bu Nyai Luluk Farida maen ke asrama, dan pas banget setiap ketemu beliau yang dibahas akan memberikan jawaban pada setiap penat di kepala dan hati. Mari kita mulai dari titik ini.. Tentang masa depan, ya masa depan kita sepenuhnya adalah tanggung jawab kita sendiri, kitalah yang menentukan masa depan kita akan seperti apa. Baik dan buruknya bergantung dengan prinsip kita hari ini. Tentang prinsip, setiap orang yang berprinsip harus punya tiga hal yang menjadi pegangan agar tidak goyah, tidak terombang ambing ketika menghadapi masalah dan prinsip yang dibangun ini akan semakin kokoh dengan diperkuat oleh lingkungan yang sesuai dan kondusif.  Ketika kete...

Membicang Jodoh dan Sifatnya

Gambar
Mencari jodoh tak harus memiliki sifat yang sama, cukup cari yang sevisi dalam agama dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan itu sudah cukup menjadi bagian dari kriteria. Jadi, hari ini pertama kali ngaji setelah tiga hari masuk di asrama. Niat ngaji dan ngabdi harus jadi niat utama pesan dari Mbak Nyai Muyas. Selain itu, ingin belajar mandiri dan mencoba memasuki zona baru dari kebiasaan sebelumnya sepertinya perlu dicoba. Karena, dikhawatirkan ternyata selama ini kita terlalu bermanja ria dengan zona nyaman yang kita cipta sedemikian rupa. Ngaji kali ini membedah sebuah buku berjudul "Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender" yang ditulis oleh Ibu Mufida 12 tahun lalu. Titik pembahasan yang menjadi menarik saya tulis di sini adalah, empat tempramen yang melekat pada manusia. Mungkin kalian sudah mengetahui ke empat-empatnya ya... Golongan Introvert: Plegmatis dan Melankolis Golongan Ekstrovert: Koleris dan Sanguinis Sangat banyak di internet yang menjelaska...

Pada Diam Mungkin Ada Jawaban

Gambar
Ada kata dimana aku memilih diam, sebabnya aku tak menemukan alasan untuk berbuat apa-apa. Detik pada malam ini, aku risau. Sebab setiap tanya itu tak kunjung kutemukan jawabannya. Ya, aku mengerti kitalah sumber jawaban dari setiap pertanyaan yang kita bingungkan. Tapi tak bisakah segera mungkin ku mengerti mengapa? Meski hingga detik ini aku mengamiini bahwa, dalam hidup tidak semua hal harus kita ketahui terjadi karena apa dan mengapa, cukup kita baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup . Jika boleh, sebenarnya menanyakan padamu akan memberikan aku jawaban bukan? Tapi lagi lagi aku memilih diam. Karena dengan begitu seakan aku tak mengerti apapun. Dan kau akan selalu begitu seakan tak pernah menau tentang apapun. Ya, lucu seperti itu nampaknya. Kita berjalan seaakan biasa saja, padahal ada yang banyak berubah. Tunggu dulu,  kita?  Terlalu egois sepertinya aku membuat definisi itu😂 mungkin cukup aku saja. Danpada detik ini, menjadi orang lain yang belajar untuk...

Tentang Langit

Gambar
Selain kamu, hal lain yang aku suka adalah langit. Entah langit malam pun siang, aku menyukai keduanya. Mungkin afirmasi positif untuk melangitkan mimpi, membuatku memilih untuk selalu jatuh hati pada keindahan langit. Ya, karena di sana aku, kamu, dan kita semua dapat menggantungkan mimpi yang kita punya. Tak hanya digantung, karena ada Tuhan Yang Maha Tinggi memerintahkan setiap hambanya untuk melangitkan doa. Dan pada doa itulah, setiap mimpi yang kita gantungkan tak sebatas mimpi tanpa tujuan. Sebab, setiap doa yang kita langitkan akan selalu didengar oleh Tuhan. Entah hari ini atau besok, akan ada jawaban. Jika bukan apa yang kita pinta, jawaban Tuhan adalah yang terbaik untuk setiap kita peracyalah. Pada langit siang, ada awan yang menawan. Membuatku semakin bersyukur dengan setiap apa yang telah Tuhan ciptakan. Dari awan kita belajar, ada proses siklus panjang sejak penguapan air dari muka bumi, hingga menjadi awan yang menggumpal di atas sana. Dan dari awan, kita be...

Aku Kalah

Gambar
Mendefinisikan jarak, ada banyak satuan yang bisa kita gunakan. Agar jarak yang ada tampak menjadi kecil. Ya, tampaknya saja. Nyatanya semua masih sama saja. Jarak kita masih begitu-bagitu saja. Entah apa yang salah, kita yang memang jauh, atau terlanjur memilih saling menjauh. Aku tak bisa menjawabnya. Aku tak tau. Kamu bagaimana? Jarak ini menggilas waktuku, mengutukku dalam rindu yang muaranya masih kamu. Akh.. Kamu, aku benci kenapa harus kamu. Berbulan-bulan aku membuat tirani pada rasaku sendiri. Nyatanya rasa jauh lebih berkuasa atas diriku. Aku kalah. Aku kalah, dalam memperjuangkan rasaku agar tak menjadi kamu. Nyatanya, aku masih manusia lemah yang hanya bisa menertawakan diriku sendiri, sebab kebodohanku membiarkan rasa ini menjadi hal utuh dalam jarak yang semakin jauh.  Sejauh aku dan kamu, sejauh itulah rasaku telah tumbuh. Kau tau, bagaimana rasanya menjadi biasa saja ketika bertemu dengamu? Jauh lebih rumit dari penurunan rumus di kertas yang ada di pang...

Jalanan Kehidupan

Gambar
Kita sebagai manusia masih sama. Tak ada pilihan lain selain terus berjalan mengikuti laju kehidupan yang sudah Tuhan gariskan. Meleeati setiap persimpangan, memilih untuk sampai pada tujuan yang diinginkan. Tak ada paksaan dalam berjalan. Kita dapat berhenti, duduk sebentar, menikmati, meresapi, bahkan berbalik arah sekalipun. Ketika yang dituju ternyata bukan apa yang kita cari. Pada dasarnya, disetiap ruas jalan yang kita lalui akn selalu ada bagian yang tak sempat kita perhatikan dengan detail. Kita biarkan saja hal itu membersamai, meski kita tak menyadari. Sama halnya dengan perjalanan rasa, menganalogikan dengan apa yang sudah saya tuliskan. Bahwa, ternyata rasa tak bisa dipaksakan. Kapan ia tiba, kapan dia jenuh, kapan dia lelah dan mencari tempat pemberhentian yang teduh. Dan kemudian, adakalanya rasa itu sadar, ada yang terlewat dari perasaan yang sudah terlampau jauh mengelana.  Ada yang dalam diam, memilih diam sebab rasa yang dia punya jauh lebih membahagia...

Mungkin Nanti

Gambar
Aku yang kemudian takut untuk melanjutkan kembali novel Vandana di Kwikku. Ada banyak alasan. Dan aku lebih nyaman bercerita disini saja. Tanpa kemudian menjadi sosok lain, Vandana misalnya. *** Terkadang ada hal yang membuatku bingung. Ketika ada yang bertanya mengapa dia? Dari kapan senengnya? Kok bisa? Entah, jawaban dan alasan-alasan pembenaran untuk membenarkan bahwa aku memiliki rasa lebih kepadamu tak pernah kutemui pastinya. Mungkin, hematku setiap rasa tak perlu ada alasan mengapa dia ada. Karena ketika kita percaya hal itu sebagai fitrah yang Tuhan berikan, justru akan membuat kita semakin menyadari, bahwa sejatinya yang haru dicintai lebih dan terlebih dahulu adalah Dia (Allah) dan diri kita sendiri sepenuhnya. Sebelum kemudian memilih untuk menetapkan rasa pada satu orang saja, yang kita yakini akan selalu membersamai kelak. Aku mengenalnya, jauh sebelum aku menyadari ada rasa yang berbeda ketika bersamanya. Bahkan, pada beberapa waktu, aku menjadi muna pada dir...