Jalanan Kehidupan


Kita sebagai manusia masih sama.
Tak ada pilihan lain selain terus berjalan mengikuti laju kehidupan yang sudah Tuhan gariskan.
Meleeati setiap persimpangan, memilih untuk sampai pada tujuan yang diinginkan.
Tak ada paksaan dalam berjalan.
Kita dapat berhenti, duduk sebentar, menikmati, meresapi, bahkan berbalik arah sekalipun.
Ketika yang dituju ternyata bukan apa yang kita cari.
Pada dasarnya, disetiap ruas jalan yang kita lalui akn selalu ada bagian yang tak sempat kita perhatikan dengan detail.
Kita biarkan saja hal itu membersamai, meski kita tak menyadari.
Sama halnya dengan perjalanan rasa, menganalogikan dengan apa yang sudah saya tuliskan.
Bahwa, ternyata rasa tak bisa dipaksakan.
Kapan ia tiba, kapan dia jenuh, kapan dia lelah dan mencari tempat pemberhentian yang teduh.
Dan kemudian, adakalanya rasa itu sadar, ada yang terlewat dari perasaan yang sudah terlampau jauh mengelana. 
Ada yang dalam diam, memilih diam sebab rasa yang dia punya jauh lebih membahagiakan.
Ada yang dalam ramai membicarakan rasanya pada siapa saja, sebab ia merasa lega jika kemudian rasa yang ia punya disambut bahagia
Ada yang berbagai macam bentuk rasa dan pengekspresiannya. 
Dan tak ada yang lebih menarik dan lucu diperhatikan ketika kita paham, seseorang sedang ada rasa berbeda pada suatu hal yang ia harapkan selalu membersamainya.
Tentang rasaku, entah sejak kapan dan sampai kapan.
Hingga detik ini masih sama: kamu.

Dan aku, ingin meminta maaf perihal itu. Maaf telah membuatmu menjadi objek dari tulisanku selama satu setengah tahun terakhir, dengan sadar dan sengaja. Aku menyengaja hal itu. Tapi entah, aneh saja tulisanku serasa bermakna sebab; kamu ._

#jogjaday1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kalah

Penting Ngopi