Selamat Pagi Masa Depanku
"hee.. Lagi di pesawat, titip fotoin awan.. ."
Foto ini, yang membuatku menjadi terus bersemangat. Dalam hati aku bergumam, suatu saat nanti aku akan mengambil foto yang sama dari ketinggian, lebih-lebih mungkin harapku bersama kamu, semoga.
Ditengah kondisi pandemi kaya gini, aku jadi pengen mengabadikan kegelisahanku dalam tulisan. Setidaknya mungkin suatu hari nanti, aku perlu ingat bagaimana rasanya berjuang untuk tetap tegak dalam menjalani kehidupan. Dengan tetap melangkah, meski kemudian sebenarnya kita semua tengah risau tanpa arah.
Masih seputar waktu. Kadang kita semua dibuat risau memikirkan objek relativistik satu ini. Mengingat masa lalu membuat trauma, memikirkan masa depan seakan tak memiliki makna. Kemudian tinggallah kita mematung hari ini tanpa keyakinan untuk melangkah. Lantas apa kita diam saja?
Tutuplah rapat-rapat masa lalu dalam kotak kaca, yang suatu waktu dapat kita lihat dengan jelas namun tidak untuk kita pegang dan temui,cukup sebagai refleksi agar diri tak melakukan kesalahan yang sama untuk saat ini.
Masa depan, rumah mewah bagi banyak impian. Setiap impian yang besar, mustahil kiranya jika tidak kita usahakan dengan usaha yang besar pula. Karena tidak pernah ada cita-cita yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah upaya yang tidak setinggi cita-cita.
Semisal contoh, aku ingin mengambil foto dari ketinggian yang sama sepertimu. Tapi usaha yang aku lakukan hanya melalui atap rumah, jelas tak akan sama hasilnya dengan usahamu yang rela membeli tiket untuk biaa naik pesawat. Sederhananya begitu.
Karena hasil tak pernah mengkhianati proses, namun kadang kita sendiri yang justru mengkhianati proses yang sedang kita tempuh. Terlalu tergesa-gesa menjemput masa depan juga tak baik. Menjadi sebelum waktunya, layaknya bayi prematur terlalu rentan untuk bertahan. Namun, terlalu selow dan santuy hanya akan menjerat kita dalam kenyamanan menikmati diri yang sebenarnya tak pernah kita upgrade kadar dan kapasitasnya.
Semua ada takarannya, layaknya obat. Menikmati hidup pun ada dosisnya. Karena masa depan adalah sepenuhnya tentang bagaimana kita hari ini, maka sudah seharusnya dari detik ini kita membuat rencana hidup kita sendiri, atau justru kita hanya menjadi bagian dari rencana hidup orang lain.
Masa depan menjadi bagian relativistik dari waktu. Bagiam dari takdir Tuhan yang harus kita yakini keberadaannya. Mengimani masa depan adalah dengan tetap berikhtiar dihari ini. Berbenah diri menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mendewasa dengan tetap ramah kepada sesama. Dan tetap membumi sebagai hamba yang tunduk kepada setiap perintah Tuhannya.
Selamat pagi masa depan yang masih Tuhan jaga, ikhtiarku ditengah pandemi ini dengan tetap menjadi baik dalam versiku kepada Tuhanku. Bukan semata hanya untuk dinilai baik oleh sesama manusia saja. Lebih dari itu. Aku berbahagia menjadi aku seutuhnya, dengan harap disuatu waktu yang kemudian aku sebut sebagai masa depan aku menemukanmu yang jua masih Tuhan jaga bersama melajunya waktu.
Aamiin.
Komentar
Posting Komentar