Jadi Kapan ...?

Hal terbesar dalam hidup yang tiada berhenti aku syukuri adalah Abah dan Umik yang selalu mengerti aku, meski aku lebih sering nakalnya, 😂
***
Lanjut lagi nih gibahin tetangganya, tapi ini juga lebih ke pengalaman aku secara pribadi sih. Seorang perempuan, yang dalam konstruk masyarakat desa sebatas akan hidup di rumah saja, dan nggak bisa kemana-mana. Dan aku berada pada posisi yang mungkin juga dialami beberapa perempuan seumuranku hidup didesa dan memilih untuk terus menambah ilmu, karena masih belum pantas untuk menikah, dan perlu untuk terus memantaskan diri.

Untunglah, Abah sama Umik sejauh ini menjadi support system setiap langkah yang aku pilih. Kepercayaan besar dari beliau, belum bisa aku balas hingga saat ini. Hal yang membahagiakan berada di rumah adalah, Abah dan Umik suka sekali membaca buku-buku yang aku beli, dan tak segan mengajak diskusi, dan bertanya hal-hal baru. 

Yang lebih membahagiakan motivasi dan doa mereka tak pernah ada habisnya "Been reh, can Abah bik Umik, reng laen tak endik orosan ngurus masa depan been, asekolaah, akabinah, alakoah. Ruah urusannah Been dibik, Umik bik Abah gun doaaginah se terbaik saben bektoh." Adem bukan?

Ada pola fikir yang masih belum aku temui simpulnya dari tetangga sekitar rumah. Yang beranggapan ketika menikahkan anaknya (khususnya perempuan) diusia yang masih dikatakan muda dan sangat dini akan terlepas tanggungan mereka sebagai orang tua. Anggapan kemudian suami yang akan menanggung segala kebutuhan anaknya pun menjadi alasan, dengan mudah orang tua menikahkan anaknya. 

Mulai dari yang baru lulus SD, SMP, bahkan ada yang belum tamat SMA. Mungkin logis saja jika suaminya sudah bisa bekerja dan tak bergantung pada orang tuanya bisa membiayai kehidupan selanjutnya. Mirisnya, kebanyakan calon suami mereka adalah teman sepermain dan juga umurnya tidak jauh. Yang sangat jelas terlihat masih menggantungkan hidupnya pada orang tua.

Perjodohan dan pemaksaan perkawinan oleh pihak keluarga juga kerap terjadi. Biasanya ini dialami oleh beberapa keluarga yang mementingkan agar mendapatkan keluarga yang terpandang, dan kadangkala diluar keinginan anak-anak yang dijodohkan.

Selain alasan tadi, Married by accident juga kerap terjadi kebanyakan pada beberapa kasus, ketika keluarga enggan menerima si Anak menikah dengan pilihannya. Alhasil, untuk menutupi aib keluarga, sesegera mungkin dinikahkan, agar kelar semua tanggungan dan beban keluarga besar.

Perkawinan anak dengan segala jenis faktor di atas tentu tak hanya dialami di desaku saja, mungkin dibelahan kota yang lainnya masih kerap kali terjadi. Menurut Mbak Muyassarotul Hafidzoh, penulis Novel Hilda. Ada beberapa faktor utama penyebab perkawinan anak ini, diantaranya:
1. Adat/kebiasaan masyarakat.
2. Faktor ekonomi
3. Faktor pergaulan bebas
4. Faktor kekerasan
Dan kebanyakan dampaknya sangat merugikan perempuan. Mengapa??

Secara real, melihat kondisi tetangga beberapa teman, dan juga adik tingkat yang sudah menikah dan tentu telah memiliki anak. Ada hal yang berubah secara drastis. Karena pendidikan mereka yang belum tuntas sebab menukah dahulu, pengasuhan anak justru dialihkan kepada Mbahnya (Ibuk si anak yang sudah menikah). Lantas bagaimana emosional itu akan terbangun? Dan tentu anggapan orang tua yang menikahkan anaknya akan lepas tanggungan mengurusi anak justru menambah beban bagi mereka sendiri.

Kerap kali, setelah memiliki anak pertama sebab sang suami tak memiliki pekerjaan tetap mereka memperoleh uang untuk keperluan sehari-hari melalui pinjaman. Meskipun kemudian ada beberapa yang membuka usaha, tapi cenderung sepi. Dan ketika penghasilan yang ada tak mampu memenuhi kebutuhan, Si suami akan memilih merantau dan meninggalkan istri dan anaknya. Kondisi ini menyebabkan perempuan memiliki beban ganda. Mengurusi kehidupan dirumahnya sendiri, mengurus anak, menyambung kehidupan sehari-hari dengan bekerja dengan sangat kerasnya.

Beberapa, perempuan yang menikah diusia dini, tak memahami akan peningnya kesehatan reproduksi dan juga kesehatan dirinya sendiri. Beberapa tampam tak terurus dan mulai mengurus, terlihat banyak beban pikiran. Jangankan mengurus anak mereka, justru memikirkan kehidupannya sendiri belum tuntas.

Jika kemudian hal ini terus terjadi pada setiap generasi ke generasi. Anggapan pendidikan pendidikan tak memiliki dampak yang penting masih terus dilanggengkan. Dan kebiasaan menikahkan anak sebab sudah terlihat dewasa dan tak mau dianggap perawan tua dan segera lepas tanggungan terus dilestariakan, bagaimana kemudian nasib kehidupan-kehidupan baru yang akan dilahirkan?

Jika memang menikah membuat kelar semua masalah, apakah kondisi ini nampak kelar semua masalah? Atau justru melahirkan masalah baru yang sulit menemukan titik penyelesaiannya. Karena hal mendasar yang harus disadari adalah, pendidikan menajadi kunci utama untuk membuka wawasan. Dan semua akan selalu nampak baik-baik saja, ketika dianggap wajar, tanpa mempertimbangkan banyak hal yang terjadi kemudian.

Entah, sebatas keresahan yang timbul. Terlebih ketika ada beberapa omongan miring tentangku yang merantau jauh untuk mencari ilmu. Mulai dari dianggap bekerja katena jarang minta kiriman dan Umik sama Abah jarang mengeluhkan biaya. Hingga anggapan, kalau anak perempuan yang nggak segera dinikahkan atau memiliki tunangan diusia yang dalam konstruksi masyarakat dianggap matang, justru akan terjerumus pada pergaulan bebas. Dan masih banyak lagi, hingga bosan aku mendengarnya, biarkanlah berlalu saja...

Untunglah, Abah dan Umik menaruh kepercayaan lebih padaku. Meski tau selama di Malang aku sering keluar malam, jarang di kontrakan, teman maennya banyak yang anak cowok. Sekalipun, tak pernah Umik marah, hanya satu pesan Umik selalu "Jek rosak kaparcajeenah aba bik umi ye nak." Dan mungkin berkat doa-doa beliau dan guru-guru saya selama ini, sejauh teman maen sampai hari ini selalu ditemukan dengan orang-orang baik yang membawa kebaikan.

Dan perihal menikah, entah. Mungkin setiap orabg punya waktunya masing masing, setiap doa itu harus tetap dilangitkan. Agar Tuham tau sejauh apa kita mempercayakan hidup kepadaNya.

Pesan umik, siapapun asal membawa kebaikan suruh datang saja kerumah. Beda lagi dengan Abah, selesaikan dulu kuliahnya. Abah pengen kamu S2 kalau sebelum itu menikah juga gapapa, asal tetap keinginan Abah masih sama. Dan aku, mengiyakan saja, dengan tetap menatap fokus kedepan menjalani apapun yang harus dijalani dengan sepenuh hati. Pada suatu waktu hati yang baik semoga menemukan hati yang juga berusaha untuk terus berbenah menjadi baik.

Simpelnya jangan enggan terus berdoa, untuk kebaikan hati kita masing-masing "Yaa Muqollibal qulub,tsabbit qolbi 'ala dinik wa asaluka qolban saliman"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Kalah

Penting Ngopi

Jalanan Kehidupan