Jadi Toleransi Itu...
Lagi belajar nggak jadi bucin dalam kehidupan dan juga tulisan. Biar bucinnya disimpan berdua sama Tuhan dulu😅
***
Jadi ceritanya dirumah selama hampir genap empat bulan memaksaku buat mengenal keluarga dan tetangga sekitar rumah lebih dekat. Dan benar menjadi mikrokosmos dari makrokosmos yang kita sebut RT (Rukun Tetangga) menuntut kita meskipun memilih #dirumahsaja akan tetap bersentuhan dan merasakan secara langsung apa yang tengah di alami masyarakat di lingkungan terdekat.
Jika kemudian anggapan bahwa desaku sudah sedikit maju, aku tidak mengiyakan hal itu. Pasalnya dalam hal pendidikan saja masih sangat kurang dan jauh dari kata cukup. Nepotisme justru marak terjadi, sebab keluarga terdekat mereka yang mempunyai jabatan akan mudah memperoleh akses segala jenis bantuan. Dan pemuda, sungguh menjadi ironi. Ditengah meningkatnya jumlah pemuda dalam angka produktif, tak ada yang kemudian menginisiasi adanya Karang Taruna, yang justru menyebabkan banyak yang memilih bekerja diluar kota bahkan luar pulau.
Kembali lagi kepembahasan awal.
Beberapa hari lalu salah seorang tetangga depan rumah meninggal. Malam harinya jenazah akan langsung dikuburkan. Anehnya, bukannya ramai di area pemakaman, beberapa bapak-bapak justru nongkrong di pinggir jalan, maklum area rumahnya persis di pinggir jalan bersebrangan dengan rumahku.
Desas-desus terdengar mereka enggan ikutan menguburkan karena keluarga yang berduka memiliki aliran kepercayaan agama yang berbeda (re: Syiah). Sedikit bingung, bahkan beberapa guru ngaji (re: ustadz) tak ada yang datang kesana.
Sampai pada peringatan empat hari Abahku berkata.
"Hemm tadeklah e imamin dibik bik mantonah, kiaenah tadek se rabu (Sudah dipimpin sendiri sama menantunya, gara-gara tidak ada Pak Kiyai yang hadir)"
"Beh anapah Bah? Abah mak panggun hadir?"
"Ye namannah tatanggeh nik, tadek salanah. Kan sepenteng duenah tak pindah aliran"
"Mak pas pak kiaenah tadek sehadir"
"Tak mubaadalah yeh jieh nyamanah?" (gara-gara di rumah aku hoby baca buku2 yai faqih, Abah jadi suka pake istilah ini😂)
"Beh benni, tak toleransi genikah"
"nah iyeh bennder tak toleran sekaleh, ben padeh bik Abah pemikirannah, ontong kan dedih tang anak" Abah tertawa dan kami lanjut makan malam.
Percakapan sewaktu makan malam tadi justru membuat pikiranku berkecamuk. Lantas bagaimana jika yang mengerti terkait paham Aswaja memilih tidak hadir karena menganggap mereka berbeda. Padahal, aku tau betul, jika beliau-beliau hadir dengan spontan akan memimpin acara tahlilan. Dan justru dengan begitu kepercayaan orang-orang tetap beranggapan bahwa Islam Aswaja yang kental dikehidupan desaku masih sangat toleran terhadap segala jenis aliran
Ini yang menjadi hal yang sangat miris yang hilang dari desa kecilku. Aku inget sering mendapat cerita dari Abah dan Umik, kalau Mbah Lakek (Ayah dari Abah) adalah orang yang disegani orang-orang didesa dan lintas kampung. Itulah mengapa, dulu akan sangat sulit jika kemudian akan ada aliran yang berbeda. Karena semua mengaji pada sagu guru yang sama.
Sedangkan sekarang, semua telah berubah dua puluh tahun terkahir. Banyak hal hilang yang akan sulit kembali. Jadi bukan lagi sebuah upaya untuk memperbaiki kondisi yang ada, karena keharmonisan antar tetangga itu mahal harganya.
Mungkin itu sekelumit kisah, desa kecilku. Yang entah ingin sekali aku berkontribusi meskipun sedikit disini.
Komentar
Posting Komentar