Mungkin Nanti
Aku yang kemudian takut untuk melanjutkan kembali novel Vandana di Kwikku. Ada banyak alasan. Dan aku lebih nyaman bercerita disini saja. Tanpa kemudian menjadi sosok lain, Vandana misalnya.
***
Terkadang ada hal yang membuatku bingung. Ketika ada yang bertanya mengapa dia? Dari kapan senengnya? Kok bisa? Entah, jawaban dan alasan-alasan pembenaran untuk membenarkan bahwa aku memiliki rasa lebih kepadamu tak pernah kutemui pastinya. Mungkin, hematku setiap rasa tak perlu ada alasan mengapa dia ada. Karena ketika kita percaya hal itu sebagai fitrah yang Tuhan berikan, justru akan membuat kita semakin menyadari, bahwa sejatinya yang haru dicintai lebih dan terlebih dahulu adalah Dia (Allah) dan diri kita sendiri sepenuhnya. Sebelum kemudian memilih untuk menetapkan rasa pada satu orang saja, yang kita yakini akan selalu membersamai kelak.
Aku mengenalnya, jauh sebelum aku menyadari ada rasa yang berbeda ketika bersamanya. Bahkan, pada beberapa waktu, aku menjadi muna pada diriku sendiri, menepis rasa dan menganggapnya itu hanya hal biasa. Dia emang baik kok ke semua orang, jadi biasa aja. Batinku kala itu. Dan terus saja aku tetap berbahagia melewati banyak hal lebih banyak lagi bersamanya.
Pada, setiap kesempatan ada tanya yang sengaja aku utarakan pada diriku sendiri. Kenapa? Ada apa dengannya? Tapi tak pernah ku temukan ujung dari setiap tanya itu. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk berjalan saja, meski jujur diawal sudah kukatakan hampir enam bulan lamanya aku membohongi diriku sendiri, tak pernah boleh ada rasa seperti itu kepadanya. Tak baik, untukku dia, dan orang lain disekitar kita.
Hari, minggu, bulan, berlalu. Bodohnya aku memilih berlarut mengahbiskan online ku hanya untuk membahas banyak hal dengan dia. Entah, dalam 20tahun terakhir baru kali ini, aku betah membahas banyak hal dengan seseorang. Meskipun sebelumnya pernah, tapi kali ini berbeda. Seakan aku tau apa yang dia pikirkan, pun sebaliknya tanpa aku duga dia juga memikirkan hal yang sepemahaman denganku pula. Dan kalau boleh jujur, dia adalah orang pertama yang membuatku bingung memilih hadiah😂 karena tak pernah sebelumnya aku dengan sadar dan sengaja memberikan seseorang barang berharga, dan tak pernah juga aku mengerti hal apa kiranya yang kemudian pas dan memiliki manfaat jangka panjang untuk seseorang, sebab dia, banyak orang menjadi korban aku tanyain satu-satu hal yang cocok kiranya apa, tapi tak ada yang pas. Hingga kemudian, aku memutuskan membelikan sesuatu yang menurutku meski dia sudah punya, setidaknya bisa menjadi pilihan lain ketika berpergian dan bisa dimanfaatkan. Kala itu aku membeli dua barang, karena takut dianggap terlalu berlebihan dan dicurigai aku putuskan memberi satu saja yang paling berharga. Dan yang satunya, mungkin karena memang aku niatkan untuk dia, di lain kesempatan kemudian menjadi miliknya tanpa kau duga. Suatu keajaiban, dan hanya Tuhan, yang nengerti mengapa itu terjadi.
Dia baik, terlampau baik dengan semua orang. Tak pernah aku temui meskipun dia tak suka dengan seseorang, kemudian mengabaikan dan meninggalkannya. Tidak, dia masih tetap berdiri di sana dengan prinsipnya. Berkatnya aku belajar, bagaimana kemudian memiliki prinsip dalam hidup itu perlu. Layaknya lampu yang akan terus menuntun kita ketika menyusuri jalan kehidupan, prinsip akan menjadi alat untuk membantu menjadi lebih dewasa kemudian. Banyak hal, yang tak bisa kusebutkan satu persatu, tentang betapa baiknya dia. Mungkin tak hanya dimataku saja, tapi siapapun yang berinteraksi dengannya pasti akan menyadari itu. Dia tulus, dan jujur terhadap segala hal. Itu yang sangat melekat dan aku tau darinya. Ketika dia tak suka, dia akan jujur tentang hal itu, tapi tidak kemudian membenci. Tanpa segan ia menegur dan memberikan solusi, tentang apa saja. Aku merindukannya begitu lagi.
Hal yang paling membuatku sangat berterimakasih, dan mungkin tak bisa aku balas banyak. Dia tanpa segan mengenalkanku kepada temannya, kalau aku penulis. Yah, meskipun sebatas penulis antologi puisi saja. Aku sendiri malu, jika harus mengaku penulis. Tapi tidak dengan dia. Sebabnya, aku yang lama vacum tidak menulis bisa belajar menulis dengan tema dan ada deadline. Menulis sekali duduk 30menit, menulis di kereta, menulis hingga tengah malam. Dan, detik ini. Aku tak yakin pernah menulis seperti itu. Beberapa bulan terakhir, aku takut untuk menulis lagi, sebab dia tak lagi selalu hadir seperti kala itu. Tapi, ada hal lain yang kemudian membuatku memilih menulis kembali. Aku tak ingin, kemudian memiliki label penulis hanya karena mood, atau karena ada yang menyemangatin. Aku benar benar ingin menjadi penulis. Itulah sebabnya, setelah hampir dua bulan berhenti menulis lagi, dengan tertatih, hingga berhari-hari aku mencoba menulis lagi. Berat? Banget. Ditambah lagi. Aku jarang berkomunikasi dengannya lagi, hanya sesekali itu pun sebatas basa-basi komen story. Dan setelah aku berhasil menulis lagi, aku sadar alasanku tetap menulis masih sama, dia.
Sebab dia yang percaya aku adalah penulis, aku tetap menulis. Sebab aku tak ingin kemudian dianggap menulis hanya karena dia, hingga aku tetap menulis. Aku tak ingin, dianggap menulis hanya untuk memenuhi deadline dari dia seperti dulu, karena itu aku menulis diberbagai media. Meskipun, secara sadar aku menyadari, dia masih menjadi alasan yang sama aku menulis hingga detik ini. Ya, tulisan ini, aku ingin menuliskannya dalam tulisan malam ini. Di awal Agustus, hampir genap setahun aku percaya, bahwa aku nyaman berada didekatnya, berdiskusi dengannya, mendengarkan masukan dan lagu favoritnya, dan banyak hal tentang dia yang tak bisa kutuliskan utuh didalam tulisan ini, sebab dia tak pernah akan ada usainya dalam setiap kataku.
Mungkin dia sudah lama tau, atau mungkin dia akan tau nanti. Atau dia tau setelah tanpa sengaja dia klik tautan tulisan ini. Tak apa, meski dia tau, meski kemudian dia memilih diam dan seakan tak tau untuk saat ini. Tak apa. Mungkin nanti ada hal lain yang sedang Tuhan siapkan. Setidaknya menuliskannya malam ini, membuatku lega. Bahwa masih dia perantara dari Tuhan yang mampu membuatku melakukan banyak hal yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Dan masih dia orang ternyaman yang membuatku tenang untuk menjalani hidup dengan bahagia dan tak banyak menghiraukan nyinyiran orang lain. Dan aku merindukannya, menceritakan banyak hal seperti bulan-bulan ditahun yang lalu.
-Maaf aku keceplosan menceritakanmu dalam tulisan malam ini. Jangan marah. Nanti kalo ketemu aku traktir ice cream😂
Semoga kamu, sehat selalu, baik selalu... 😘
Komentar
Posting Komentar